Minggu, 12 Oktober 2014

Annyeong, chapter 2 dari GONE sudah terbit. gimana yang chapter 1? semoga gak garing yah. Baiklah, aku mempersembahkan chapter 2 ini untuk teman-teman kita yang mungkin memiliki kekurangan dan kurang percaya diri untuk mendapatkan cinta.
Langsung aja, yah. Check this out!

GONE chapter 2

            Dae Ri turun dari mobil yang baru saja menjemputnya dari sekolah. Tuan Han Lee Jung sudah menyambutnya didepan gerbang, ia membungkuk pada Dae Ri meski Dae Ri tak membalasnya karena ia tak tau bahwa tuan Han sedang membungkuk padanya. Dae Ri berjalan bagai orang yang tak buta. Ia tahu dimana letak pintu masuk rumahnya.
            Dari dalam rumah, ayah Dae Ri sedang sibuk membimbing muridnya, Kim Min Seok. Kim Min Seok adalah pria yang sebelumnya diceritakan oleh Soo Ri pada Dae Ri. Pria yang membuat Dae Ri jatuh cinta pada lantunan lagu yang ia mainkan.
            Min Seok memainkan jemarinya diatas tuts piano dengan sangat lihai. Lalu ia menatap keluar jendela dan melihat Dae Ri yang sedang berjalan masuk kedalam rumah dan membuat nada yang ia mainkan sedikit melenceng dan membuat tuan Dae Sung memukulkan kayu rotannya pada badan piano. Min Seok terkejut dan kembali mengalihkan perhatiannya pada piano dihadapannya.
            Dae Ri masuk kerumah dan duduk diruang tunggu, menunggu giliran untuk berlatih piano. Antara ruang latihan dengan ruang tunggu disekat oleh kaca yang membuat Min Seok mampu melihat Dae Ri lagi dari jarak lebih dekat. Tapi kali ini ia memutuskan untuk tetap berkonsentrasi pada latihannya karena tak ingin kena marah oleh gurunya.
            Dengan seksama Dae Ri mendengarkan not demi not yang dimainkan oleh Min Seok. Senyuman kembali terukir diwajahnya.
            “Dia pria yang kemarin.” Gumam Dae Ri.
            Setelah 1 jam berlalu, latihan Min Seok dengan tuan Dae Sung pun berakhir.
            “Baiklah, Kim Min Seok. Latihan hari ini sudah cukup. Tapi ada apa denganmu hari ini? pikiranmu sedang tidak disini.” Ucap tuan Dae Sung.
            “Jhwesonghamnida, seongsengnim. Aku akan berusaha lebih baik lagi.” Min Seok membungkuk lalu beranjak pulang.
            Tahu bahwa murid ayahnya sudah selesai, Dae Ri masuk menuju ruang piano untuk memulai latihannya. Tanpa disadari Dae Ri, ia dan Min Seok berpapasan. Min Seok menatapi Dae Ri dengan seksama walau hanya sebentar sambil memasukan sesuatu kemulutnya.
            “Ya, Kim Min Seok! Palliwa! Aku tak mau ayahmu membunuhku karena terlambat membawamu.” Seorang pria menggunakan kemeja putih dan dasi merah yang ditutupi oleh jas berwarna hitam dan celana panjang dengan warna serupa menarik lengan Min Seok dan menyeretnya masuk kedalam mobil.
            “Ya! Ahjussi! Aku akan melaporkanmu pada ayah jika kau terus bersikap kasar padaku!” bentak Min Seok.
            “Silahkan saja.”



            Usai latihan, Dae Ri memberanikan diri untuk berbicara pada ayahnya.
            “Abheoji, pukulan yang kuterima hari ini tidak banyak.” Dae Ri bangkit dari kursi piano.
            “Ya, tapi kau harus banyak belajar. Agar kau bisa jadi seorang pianis hebat seperti ayah, bukan hanya jadi beban yang harus ayah pikul sendiri.” Jawab ayahnya sambil membereskan kertas-kertas not yang ada dimeja disebelah piano tanpa menatap wajah Dae Ri.
            Mendengar kata-kata ayahnya, Dae Ri menelan ludah menahan rasa sakit didadanya yang tiba-tiba datang.
            “Abheoji, bolehkah aku bertanya?”
            “Mwo?”
            “Bolehkah aku tau, kenapa abheoji menganggapku sebagai beban? Apa karena aku buta?” kini Dae Ri mulai menahan air matanya.
            Tuan Dae Sung sekilas melirik pada putrinya tanpa menjawabnya.
            “Abheoji? Kau masih disitu?” Dae Ri kembali bertanya.
            BRAAKK…
            Tuan Dae Sung membanting tumpukan kertas not yang baru saja ia bereskan.
            “Han Soo Ri! Cepat bawa dia kekamarnya!” teriak tuan Dae Sung pada Soo Ri.
            Han Soo Ri sedikit berlari menuju ruang piano lalu menggandeng Dae Ri menuju kamarnya.


            “Apa yang kau katakan pada tuan Kim, Dae Ri-a? Kenapa dia bisa jadi semarah itu?” tanya Soo Ri setelah mendudukan Dae Ri pada tempat tidurnya.
            “Annieyo, unnie.” Dae Ri memaksakan senyuman untuk keluar dari bibirnya.
            “Aiish, jinja!” Soo Ri menepuk dahinya.
            “Nan gwenchana, unnie. Gogjeong hajima.” Dae Ri berusaha menenangkan Soo Ri yang sangat khawatir pada keadaannya.
            “Ck, bisakah kau meyakinkan aku?”
            “Unnie, bisakah kau tinggalkan aku? Heuuh, nan himdeureoyo.” Dae Ri membaringkan tubuhnya.
            “Arasseo. Jal ja.” Soo Ri memasangkan selimut untuknya lalu keluar dari kamar Dae Ri.
            Dae Ri menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Lalu air mata kembali mengalir dipipinya.
            “Eomma, temani aku tidur malam ini. Jebal, eomma.”



            Tookk tookk tokk…
            “Nuguseyeo?” tanya Dae Ri.
            “Saya Han Soo Ri, nona.” Jawab suara dibalik pintu.
            “Deureowa!”
            Soo Ri membuka pintu, lalu masuk kedalam kamar Dae Ri.
            “Apa kau tak mau berangkat kesekolah pagi ini? ini sudah jam 7 pagi.” Tanya Soo Ri sambil membuka setiap tirai yang masih menutupi kamar Dae Ri.
            “Aku tidak ingin sekolah hari ini.” Dae Ri bangun dan membuka selimutnya. “Unnie, bilang pada abheoji bahwa aku sakit. Jebal, unnie.”
            “Mwo? Kau menyuruhku untuk berbohong pada tuan Kim?” Soo Ri membelalakan matanya.
            “Unnie, jebal.” Dae Ri memelas.
            “Ck, ara. Tapi jika tuan Kim tau, kau tanggung sendiri akibatnya.”
            “Algeseumnida.” Dae Ri tersenyum lalu membungkuk pada Soo Ri meskipun ia tak tahu letak Soo Ri.
            “Aku akan keluar dan mengatakannya pada tuan Kim. sebaiknya kau baringkan tubuhmu dan tutupi dengan selimut.” Perintah Soo Ri.
            “Nee.” Dae Ri kembali membaringkan tubuhnya dan menutupinya dengan selimut.

            Tak lama kemudian tuan Dae Sung masuk kekamar Dae Ri.
            “Neo eodi appo?” tanya tuan Dae Sung dari ambang pintu kamar Dae Ri.
            “Aku sedikit demam dan agak pusing.” Dae Ri memegangi kepalanya agar terlihat lebih nyata.
            “Baiklah, kau tak perlu sekolah hari ini.” tuan Dae Sung lalu keluar dan menutup pintu.
            Beberapa saat kemudian Soo Ri masuk.
            “Ya! Kau benar-benar berbohong pada tuan Kim? Huwaa… Daebak! Ini pertama kalinya aku tau kau membohonginya.” Soo Ri menarik selimut Dae Ri.
            “Unnie, sebenarnya entah berapa ratus kali aku sudah berbohong pada abheoji.” Dae Ri bangkit dan duduk.
            Soo Ri terlihat sangat bingung dengan maksud ucapan Dae Ri.
            “Unnie? apa yang kau pikirkan?” tanya Dae Ri.
            “Aniya, opseoyo. Istirahatlah, aku harus membersihkan ruang latihan.”
            “Nee, unnie.”
            Soo Ri keluar dari kamar Dae Ri. Dae Ri bangkit dari tempat tidurnya menuju meja belajar. Meraba-raba meja itu, berusaha menemukan sesuatu. Hingga jemarinya menyentuh sebuah buku harian yang dicovernya terdapat tulisan “Isi Hati Kim Dae Ri” yang ditulis menggunakan huruf bryler. Ia membuka lembaran yang masih kosong, menusuk-nusuk lembaran itu hingga terbentuk kata, lalu menjadi kalimat dan kemudian menjadi sebuah paragraf.
            Dear Buku Harianku…
            Aku mungkin tidak bisa melihat, tapi indera pendengaranku tidak buruk. Beberapa hari ini aku mendengar dentingan piano yang indah. Sepertinya aku jatuh cinta dengan lagu itu. Emm, sepertinya bukan hanya dengan lagunya, tetapi juga dengan pemainnya. Ini pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini.
            Setiap saat seperti mendengar lantunan lagu yang sering ia mainkan. Kadang aku ingin waktu berjalan lebih cepat agar aku bisa mendengarnya memainkan tuts piano itu lagi. Sepertinya aku mulai dibuat linglung olehnya. Tapi aku tak berniat untuk mendekatinya karena aku sadar akan keadaanku.
            Dae Ri menulis dengan wajah berseri-seri. Tiba-tiba seseorang mebuka pintu tanpa mengetuknya dulu, membuat Dae Ri menjatuhkan buku hariannya.
            “Dae Ri-a, cepat mandi! Tuan Kim menyuruhmu untuk latihan piano sekarang.” Han Soo Ri terlihat agak panik.
            “Aku kan sedang sakit. Ayah masih tega ingin memukulku jika aku salah memainkan nada.” Dae Ri lalu bangkit dan beranjak menuju kamar mandi.
            “Ya! Kau kan hanya pura-pura sakit!” teriak Soo Ri lalu membekap mulutnya sendiri takut tuan Dae Sung mendengarnya.

            20 menit kemudian Dae Ri sudah turun dari kamarnya menuju ruang latihan. Ia tampak lesu karena takut dan kecewa. ‘Hemmmh, ternyata jika aku hari ini benar-benar sakit, ayah tetap akan memukuliku jika aku salah nada.’ Batin Dae Ri.
            “Ya, Kim Dae Ri! Palliwa!” bentak ayahnya.
            Dae Ri pun mempercepat langkah kakinya, dan tak lama ia sudah duduk dikursi piano itu.

            “Mulai lah!” perintah ayah Dae Ri.

~TBC~

Mian di TBC nya kumat soalnya masih dalam proses. tolong kasih comment ya supaya aku bisa ngembangin tulisan ini lagi :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar