GONE chapter 1
Keadilan
Tuhan akan hadir ketika waktunya tepat. Prinsip yang dipegang teguh oleh
seorang gadis berparas cantik dengan rambut hitam lebat yang sedikit
bergelombang ini tak pernah goyah meski dirinya tak sesempurna gadis lain.
Dalam keterbatasannya yang tak mampu mendeskripsikan bagaimana indahnya alam
disekitarnya, mana jalan yang harus dia ambil ketika berangkat atau pulang
sekolah, bagaimana cara ia melihat orang yang ia sayang. Sungguh banyak kata
”bagaimana” untuk Kim Dae Ri yang buta sejak ia berumur 6 bulan akibat sebuah
kecelakaan lalu lintas yang menewaskan ibunya.
17 tahun lalu, malam natal pertama
dan terakhir yang bisa ia lihat. Ayah Dae Ri, Kim Dae Sung yang sedang menyetir
mobil dalam keadaan sedikit mengantuk karena lelah setelah melewati malam natal
bersama keluarga kecilnya, membuat ia kehilangan kendali. Mobil mini van itu menabrak dinding pembatas
jalan dan terguling beberapa kali hingga akhirnya berhenti tepat
ditengah-tengah padatnya lalu lintas kota Seoul. Kim Dae Sung menoleh kearah
istri dan putri kecilnya yang berada dikursi sebelahnya.
“Ai Lee-a? neo gwenchana? Ai Lee-a?”
tuan Dae Sung memanggil nama istrinya dengan tangan kanannya memegangi
kepalanya yang terluka akibat terbentur stir mobil.
Tak ada jawaban sama sekali dari
nyonya Ai Lee, bahkan bayi Dae Sung tak bergerak sedikit pun. Beberapa saat
kemudian suara mobil ambulan dan polisi pun datang mendekati mobil tuan Dae
Sung. Tuan Dae Sung dan keluarganya dilarikan kerumah sakit dalam keadaan tidak
sadar.
Perlahan tuan Dae Sung membuka kedua
matanya. Suara-suara samar yang perlahan mampu ia cerna pun membuatnya sadar
akan keberadaanya dirumah sakit. Beberapa perawat sudah berdiri disebelahnya
untuk memastikan keadaan tuan Dae Sung.
“Tuan Kim, apa anda merasa baik-baik
saja?” ucap seorang perawat yang berada disisi kanannya.
“Dimana anak dan istriku? Apa mereka
baik-baik saja?” tuan Dae Sung langung bangkit namun ditahan oleh para perawat.
“Anda harus tenang! Mereka sudah
dalam penanganan tim medis. Mereka akan baik-baik saja. Sebaiknya sekarang anda
berbaring dan istirahat dahulu!” Jawab salah satu perawat.
Tuan Dae Sung pun sedikit merasa
lega dan membaringkan kembali tubuhnya. Setelah beberapa jam ia berada di ruang
gawat darurat, ia pun dipindah keruang rawat inap. Keesokan harinya Kim Dae Woo,
adik dari tuan Dae Sung menjenguk kakaknya.
“Selamat pagi, hyung. Apa kau merasa
lebih baik? Semalaman aku mengkhawatirkanmu.” Sapa tuan Dae Woo.
“Aku merasa lebih baik sekarang. Kau
mengkhawatirkanku? Jinja? Aku tidak melihatmu semalam.”
“Yaa! Aku sedang mengurus biaya
administrasimu. Berterimakasihlah padaku.” Tuan Dae Woo menuangkan air mineral
kedalam gelas tuan Dae Sung.
“Haha. Ara, gomawo Dae Woo-a. tapi,
dimana istri dan anakku? Bagaimana keadaan mereka sekarang?”
Sontak, tuan Dae Woo terkejut dan
menumpahkan air yang sedang dituangnya. Kini, hal yang paling ia takuti sejak
malam tadi akhirnya terlontar dari mulut Dae Sung. “Apa yang harus kukatakan padanya?“ Dae Woo membatin. Bingung dengan
sikap adiknya itu, tuan Dae Sung mengguncang bahu adiknya dan mulai sedikit
cemas.
“Dae Woo-a? malhaebwa! Anak dan
istriku, bagaimana mereka?” kepanikan mulai muncul diraut wajah tuan Dae Sung.
“Hyung-a, mianhae. Aku tak
mengatakannya padamu langsung, tapi menurut ayah dan ibu, itu yang terbaik
untukmu.” tuan Dae Woo mencoba berbicara tanpa membuat kakaknya panik.
“Apa Dae Ri dan Ai Lee….”
“Ai Lee noona telah pergi untuk
selamanya.”
“Mwo?” bagai disengat listrik
tegangan tinggi, tubuh tuan Dae Sung langsng lemah tak bertenaga. Air mata sudah
membendung dipelupuk matanya.
“Dan Dae Ri…”
“Apa? Ada apa dengan Dae Ri?” tuan
Dae Sung kembali mengguncang tubuh adiknya.
“ Ia selamat. Tapi ia mengalami
kebutaan karena serpihan kaca yang merobek kornea matanya.”
“Putriku? Kim Dae Ri? Buta?”
“Tabahlah, hyung. Kami akan selalu
ada untukmu dan Dae Ri.”
Seiring bertumbuhnya Dae Ri menjadi
seorang remaja, ayahnya pun semakin menuntut banyak hal padanya. Dan salah
satunya adalah untuk menjadi seorang pianis karena tuan Dae Sung merupakan
seorang pianis handal yang terkenal diseluruh penjuru Korea Selatan. Terkadang Dae
Ri sangat ingin memeluk ibunya untuk sekedar mengadu ketika ayahnya memarahinya
karena ia salah memainkan not pada piano. Namun apa daya, jangankan pelukan
hangat dari ibunya, bahkan suara ibunya pun sudah tak ada lagi dalam memori
otaknya.
Seperti
biasa, sepulang sekolah setelah makan siang, Dae Ri harus berlatih piano bersama ayahya. Dae Ri
berjalan menuju piano tua milik ayahnya tanpa ada seorangpun yang
menggandengnya meskipun terdapat 2 orang pelayan pribadi dirumah itu. Bukan karena
mereka merasa tak peduli pada Dae Ri, tapi karena tuan Dae Sung melarang orang
lain membantu Dae Ri. Namun tak ada sedikitpun perasaan benci Dae Ri pada
ayahnya karena diperlakukan bukan seperti anaknya.
“Dae Ri-a! palliwa! 1 jam lagi,
murid ayah akan segera datang.” Bentak ayah Dae Ri.
“Ne, aboeji.” Dae Ri berjalan
perlahan.
Setelah duduk dikursi piano ia sudah
mengira apa yang akan diterimanya ketika ia salah memainkan not. Beberapa
sabetan dari kayu rotan akan melayang kepunggungnya dan meninggalkan bekas
selama beberapa hari.
“Ulangi lagu yang kemarin sudah kau
pelajari!” perintah tuan Dae Sung.
Dae Ri mulai memainkan jemarinya
diatas tuts piano. Senyuman kecil terlukis diwajah cantiknya karena sejauh ini
ia belum melakukan kesalahan. Tapi beberapa saat kemudian, nada yang dimainkan
Dae Ri terdengar ganjil dan membuat ayahnya memukulkan kayu rotan pada punggung
Dae Ri. Dae Ri menghentikan aktivitas jemarinya, menahan rasa sakit yang sudah
10 tahun belakangan ini ia terima.
“Kau tau dimana letak kesalahanmu?”
tanya ayah Dae Ri.
Tak ada jawaban dari Dae Ri. Ini
membuat tuan Dae Sung semakin kesal dan memaksanya untuk kembali menyabet
punggung putrinya.
“Apa sekarang kau menjadi tuli?”
tuan Dae Sung semakin mencerca putri semata wayangnya itu.
“Anniyeo, abheoji.” Dae Ri
membetulkan not yang ia salah mainkan tadi. Lalu beberapa kesalahan lain datang
begitu juga dengan sabetan-sabetan lain.
Kesal dan bosan mengajar anaknya,
tuan Dae Sung menyuruh Dae Ri masuk kekamarnya dan melarangnya keluar sebelum
murid pianonya pulang. Entah mengapa ia menyembunyikan Dae Ri dari orang-orang
yang mengenalnya. Mungkin dia malu karena seorang pianis terkenal mempunyai
anak gadis yang buta.
“Kau ingat kata ayah, kan? Jangan
keluar sebelum murid ayah pulang. Jika kau butuh sesuatu, nona Han ada didepan
pintu kamarmu. Cepat naik kekamarmu!”
“Nee, abheoji.” Dae Ri memutar
badannya dan berjalan perlahan, menaiki tangga dengan diikuti oleh nona Han,
salah satu pelayan dirumah itu.
Karena sudah 17 tahun ia hidup dalam
kebutaan dirumah itu, meski tanpa dibimbing pun ia sudah tahu letak kamarnya.
Ia meraba daun pintu ber-cat coklat tua dengan ukiran bermotif bunga untuk
menemukan gagang pintu, lalu membukanya.
“Nona Kim, jika anda memerlukan
sesuatu silahkan panggil saya. Saya akan ada disini sampai murid tuan Kim
pulang.” Ucap nona Han.
“Gomawo, unnie. hanya kau yang bisa
membuatku merasa masih hidup.” Dae Ri tersenyum kecil, lalu masuk kekamarnya.
Nona Han Soo Ri merupakan putri dari
tuan Han Lee Jung dan nyonya Park Min Ah. Usianya 3 tahun lebih tua dari Dae
Ri. Sejak ia belum lahir, kedua orang tuanya sudah bekerja menjadi pelayan
dirumah keluarga Kim. Ia yang menjaga Dae Ri saat bermain ketika usia Dae Ri 4
tahun. Dan untuk Dae Ri, ia merupakan kakak yang sangat ia sayangi.
Dae Ri duduk disofa yang ada
dikamarnya, meraba-raba meja dihadapannya untuk menemukan toples berisi permen
dengan rasa buah kesukaannya. Ia mencium bau dari tiap butir permen, mencari
permen dengan bau jeruk lemon. Sudah hampir semua permen ia hirup aromanya,
tapi tak ada yang beraroma jeruk lemon.
“Oh, tak ada rasa lemon? Apa sudah
habis?” ia pun mengambil sembarang permen lalu memakannya.
Setelah ia menutup toples, Dae Ri
menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa dengan agak miring karena rasa sakit
akibat pukulan ayahnya masih belum hilang. Ia memejamkan matanya, menarik nafas
panjang lalu menghembuskannya perlahan. Tiba-tiba sebuah sungai kecil terbentuk
dipipinya. Air mata kerinduannya pada ibu yang tak sempat ia ingat wajahnya itu
mengalir perlahan.
“Eomma, bogoshippeo.” Bibir
mungilnya bergetar ketika mengucapkan kalimat yang memilukan itu.
“Eomma, tak rindu kah kau padaku?
Tak ingin kah kau memelukku? Tak ingin kah kau membelaku ketika ayah memarahiku
karena aku buta?” lalu ia terdiam sejenak dan mengusap air matanya.
Dae Ri bangkit dan beranjak ketempat
tidur. Ia duduk ditepi tempat tidur, memegang bahunya yang terasa sakit.
“Eomma, appo. Bisakah kau
mengoleskan obat pada punggungku?” Dae Ri berbicara seolah ibunya sedang berada
disisinya.
Ini semua ia lakukan untuk mengusir
rasa rindu pada ibunya. Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar.
“Nuguseyeo?” tanya Dae Ri.
“Saya Han Soo Ri, bolehkah saya
masuk nona?” tanya nona Han dari balik pintu.
“Deureowa, unnie.”
Kleekk.
“Nona, bukalah baju anda. Saya akan
mengoleskan obat ini pada luka anda.”
“Unnie-a, bisakah kau bersikap
santai? Ayah sedang tidak disini.” Dae Ri membuka pakaian atasnya dibantu oleh
Soo Ri.
“Kalau ayahmu tau, ia akan
mendepakku dari sini.” Soo Ri duduk disebelah Dae Ri lalu mengoleskan obat
kepunggung Dae Ri.
“Aaww, unnie, appo.” Dae Ri sedikit
merengek.
“Mian, mian.”
Sambil terus mengoleskan obat,
terdengar lantunan lagu yang dimainkan dengan piano. Dae Ri sungguh kagum
dengan keselarasan not yang dimainkan. Baginya itu sangat sempurna.
“Unnie, apa murid ayah yang sedang
memainkan lagu ini?” tanya Dae Ri.
“Oh. Wae? Neo joha-e?”
Dae Ri tersenyum sambil mengangguk.
“Pria ini mungkin seumuranmu atau
sedikit diatasmu. Dia merupakan pianis muda berbakat. Dia pernah memenangkan
beberapa kejuaraan memainkan piano. Dan yang paling penting, ia merupakan pria
yang tampan.” Jelas Soo Ri.
“Jinja? Daebak! Kau tahu segalanya
tentang pria itu. Apa kau seorang saeseng?” ledek Dae Ri.
“Ch, babo-ya? Aku hanya mendengarnya
dari tuan Kim. Lagi pula aku tak ada waktu untuk mencari tahu tentang kehidupan
pribadi orang lain.”
Dae Ri tertawa ringan mendengar
ucapan Soo Ri. Selesai mengoleskan obat, Soo Ri membantu Dae Ri mengenakan
pakaiannya.
“Unnie?” Dae Ri mengangkat tangannya
berusaha menemukan wajah Soo Ri.
“Wae-eo?” Soo Ri menuntun tangan Dae
Ri kewajahnya.
“Apa kau cantik?” tanya Dae Ri
sembari meraba wajah Dae Ri.
“Tentu saja.”
“Apa aku secantik kau?”
“Hm, kau lebih cantik dari aku.” Soo
Ri tersenyum.
“Kau sedang tersenyum?”
“Kau yang membuatku tersenyum, Dae
Ri-a. Tetaplah tegar! Aku akan selalu ada untukmu.” Soo Ri menggenggam tangan
Dae Ri.
~TBC~
~TBC~
apik :v
BalasHapus