Sabtu, 11 Oktober 2014

Ini bukan fanfiction yang manjadikan personil boyband sebagai cast nya. Sebenernya ini cuma penyaluran ide setelah nonton music video-nya penyanyi solo Korea, Jin yang judulnya Gone. Dari situlah aku mulai nyoba buat nuangin yang ada di music video itu ke tulisan ini. Mian kalo ceritanya agak garing. selamat membaca yeoreobeun :)




GONE chapter 1



Keadilan Tuhan akan hadir ketika waktunya tepat. Prinsip yang dipegang teguh oleh seorang gadis berparas cantik dengan rambut hitam lebat yang sedikit bergelombang ini tak pernah goyah meski dirinya tak sesempurna gadis lain. Dalam keterbatasannya yang tak mampu mendeskripsikan bagaimana indahnya alam disekitarnya, mana jalan yang harus dia ambil ketika berangkat atau pulang sekolah, bagaimana cara ia melihat orang yang ia sayang. Sungguh banyak kata ”bagaimana” untuk Kim Dae Ri yang buta sejak ia berumur 6 bulan akibat sebuah kecelakaan lalu lintas yang menewaskan ibunya.
            17 tahun lalu, malam natal pertama dan terakhir yang bisa ia lihat. Ayah Dae Ri, Kim Dae Sung yang sedang menyetir mobil dalam keadaan sedikit mengantuk karena lelah setelah melewati malam natal bersama keluarga kecilnya, membuat ia kehilangan kendali. Mobil mini van itu menabrak dinding pembatas jalan dan terguling beberapa kali hingga akhirnya berhenti tepat ditengah-tengah padatnya lalu lintas kota Seoul. Kim Dae Sung menoleh kearah istri dan putri kecilnya yang berada dikursi sebelahnya.
            “Ai Lee-a? neo gwenchana? Ai Lee-a?” tuan Dae Sung memanggil nama istrinya dengan tangan kanannya memegangi kepalanya yang terluka akibat terbentur stir mobil.
            Tak ada jawaban sama sekali dari nyonya Ai Lee, bahkan bayi Dae Sung tak bergerak sedikit pun. Beberapa saat kemudian suara mobil ambulan dan polisi pun datang mendekati mobil tuan Dae Sung. Tuan Dae Sung dan keluarganya dilarikan kerumah sakit dalam keadaan tidak sadar.
            Perlahan tuan Dae Sung membuka kedua matanya. Suara-suara samar yang perlahan mampu ia cerna pun membuatnya sadar akan keberadaanya dirumah sakit. Beberapa perawat sudah berdiri disebelahnya untuk memastikan keadaan tuan Dae Sung.
            “Tuan Kim, apa anda merasa baik-baik saja?” ucap seorang perawat yang berada disisi kanannya.
            “Dimana anak dan istriku? Apa mereka baik-baik saja?” tuan Dae Sung langung bangkit namun ditahan oleh para perawat.
            “Anda harus tenang! Mereka sudah dalam penanganan tim medis. Mereka akan baik-baik saja. Sebaiknya sekarang anda berbaring dan istirahat dahulu!” Jawab salah satu perawat.
            Tuan Dae Sung pun sedikit merasa lega dan membaringkan kembali tubuhnya. Setelah beberapa jam ia berada di ruang gawat darurat, ia pun dipindah keruang rawat inap. Keesokan harinya Kim Dae Woo, adik dari tuan Dae Sung menjenguk kakaknya.
            “Selamat pagi, hyung. Apa kau merasa lebih baik? Semalaman aku mengkhawatirkanmu.” Sapa tuan Dae Woo.
            “Aku merasa lebih baik sekarang. Kau mengkhawatirkanku? Jinja? Aku tidak melihatmu semalam.”
            “Yaa! Aku sedang mengurus biaya administrasimu. Berterimakasihlah padaku.” Tuan Dae Woo menuangkan air mineral kedalam gelas tuan Dae Sung.
            “Haha. Ara, gomawo Dae Woo-a. tapi, dimana istri dan anakku? Bagaimana keadaan mereka sekarang?”
            Sontak, tuan Dae Woo terkejut dan menumpahkan air yang sedang dituangnya. Kini, hal yang paling ia takuti sejak malam tadi akhirnya terlontar dari mulut Dae Sung. “Apa yang harus kukatakan padanya?“ Dae Woo membatin. Bingung dengan sikap adiknya itu, tuan Dae Sung mengguncang bahu adiknya dan mulai sedikit cemas.
            “Dae Woo-a? malhaebwa! Anak dan istriku, bagaimana mereka?” kepanikan mulai muncul diraut wajah tuan Dae Sung.
            “Hyung-a, mianhae. Aku tak mengatakannya padamu langsung, tapi menurut ayah dan ibu, itu yang terbaik untukmu.” tuan Dae Woo mencoba berbicara tanpa membuat kakaknya panik.
            “Apa Dae Ri dan Ai Lee….”
            “Ai Lee noona telah pergi untuk selamanya.”
            “Mwo?” bagai disengat listrik tegangan tinggi, tubuh tuan Dae Sung langsng lemah tak bertenaga. Air mata sudah membendung dipelupuk matanya.
            “Dan Dae Ri…”
            “Apa? Ada apa dengan Dae Ri?” tuan Dae Sung kembali mengguncang tubuh adiknya.
            “ Ia selamat. Tapi ia mengalami kebutaan karena serpihan kaca yang merobek kornea matanya.”
            “Putriku? Kim Dae Ri? Buta?”
            “Tabahlah, hyung. Kami akan selalu ada untukmu dan Dae Ri.”

            Seiring bertumbuhnya Dae Ri menjadi seorang remaja, ayahnya pun semakin menuntut banyak hal padanya. Dan salah satunya adalah untuk menjadi seorang pianis karena tuan Dae Sung merupakan seorang pianis handal yang terkenal diseluruh penjuru Korea Selatan. Terkadang Dae Ri sangat ingin memeluk ibunya untuk sekedar mengadu ketika ayahnya memarahinya karena ia salah memainkan not pada piano. Namun apa daya, jangankan pelukan hangat dari ibunya, bahkan suara ibunya pun sudah tak ada lagi dalam memori otaknya.
Seperti biasa, sepulang sekolah setelah makan siang, Dae Ri harus  berlatih piano bersama ayahya. Dae Ri berjalan menuju piano tua milik ayahnya tanpa ada seorangpun yang menggandengnya meskipun terdapat 2 orang pelayan pribadi dirumah itu. Bukan karena mereka merasa tak peduli pada Dae Ri, tapi karena tuan Dae Sung melarang orang lain membantu Dae Ri. Namun tak ada sedikitpun perasaan benci Dae Ri pada ayahnya karena diperlakukan bukan seperti anaknya.
            “Dae Ri-a! palliwa! 1 jam lagi, murid ayah akan segera datang.” Bentak ayah Dae Ri.
            “Ne, aboeji.” Dae Ri berjalan perlahan.
            Setelah duduk dikursi piano ia sudah mengira apa yang akan diterimanya ketika ia salah memainkan not. Beberapa sabetan dari kayu rotan akan melayang kepunggungnya dan meninggalkan bekas selama beberapa hari.
            “Ulangi lagu yang kemarin sudah kau pelajari!” perintah tuan Dae Sung.
            Dae Ri mulai memainkan jemarinya diatas tuts piano. Senyuman kecil terlukis diwajah cantiknya karena sejauh ini ia belum melakukan kesalahan. Tapi beberapa saat kemudian, nada yang dimainkan Dae Ri terdengar ganjil dan membuat ayahnya memukulkan kayu rotan pada punggung Dae Ri. Dae Ri menghentikan aktivitas jemarinya, menahan rasa sakit yang sudah 10 tahun belakangan ini ia terima.
            “Kau tau dimana letak kesalahanmu?” tanya ayah Dae Ri.
            Tak ada jawaban dari Dae Ri. Ini membuat tuan Dae Sung semakin kesal dan memaksanya untuk kembali menyabet punggung putrinya.
            “Apa sekarang kau menjadi tuli?” tuan Dae Sung semakin mencerca putri semata wayangnya itu.
            “Anniyeo, abheoji.” Dae Ri membetulkan not yang ia salah mainkan tadi. Lalu beberapa kesalahan lain datang begitu juga dengan sabetan-sabetan lain.
            Kesal dan bosan mengajar anaknya, tuan Dae Sung menyuruh Dae Ri masuk kekamarnya dan melarangnya keluar sebelum murid pianonya pulang. Entah mengapa ia menyembunyikan Dae Ri dari orang-orang yang mengenalnya. Mungkin dia malu karena seorang pianis terkenal mempunyai anak gadis yang buta.
            “Kau ingat kata ayah, kan? Jangan keluar sebelum murid ayah pulang. Jika kau butuh sesuatu, nona Han ada didepan pintu kamarmu. Cepat naik kekamarmu!”
            “Nee, abheoji.” Dae Ri memutar badannya dan berjalan perlahan, menaiki tangga dengan diikuti oleh nona Han, salah satu pelayan dirumah itu.
            Karena sudah 17 tahun ia hidup dalam kebutaan dirumah itu, meski tanpa dibimbing pun ia sudah tahu letak kamarnya. Ia meraba daun pintu ber-cat coklat tua dengan ukiran bermotif bunga untuk menemukan gagang pintu, lalu membukanya.
            “Nona Kim, jika anda memerlukan sesuatu silahkan panggil saya. Saya akan ada disini sampai murid tuan Kim pulang.” Ucap nona Han.
            “Gomawo, unnie. hanya kau yang bisa membuatku merasa masih hidup.” Dae Ri tersenyum kecil, lalu masuk kekamarnya.
            Nona Han Soo Ri merupakan putri dari tuan Han Lee Jung dan nyonya Park Min Ah. Usianya 3 tahun lebih tua dari Dae Ri. Sejak ia belum lahir, kedua orang tuanya sudah bekerja menjadi pelayan dirumah keluarga Kim. Ia yang menjaga Dae Ri saat bermain ketika usia Dae Ri 4 tahun. Dan untuk Dae Ri, ia merupakan kakak yang sangat ia sayangi.
            Dae Ri duduk disofa yang ada dikamarnya, meraba-raba meja dihadapannya untuk menemukan toples berisi permen dengan rasa buah kesukaannya. Ia mencium bau dari tiap butir permen, mencari permen dengan bau jeruk lemon. Sudah hampir semua permen ia hirup aromanya, tapi tak ada yang beraroma jeruk lemon.
            “Oh, tak ada rasa lemon? Apa sudah habis?” ia pun mengambil sembarang permen lalu memakannya.
            Setelah ia menutup toples, Dae Ri menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa dengan agak miring karena rasa sakit akibat pukulan ayahnya masih belum hilang. Ia memejamkan matanya, menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Tiba-tiba sebuah sungai kecil terbentuk dipipinya. Air mata kerinduannya pada ibu yang tak sempat ia ingat wajahnya itu mengalir perlahan.
            “Eomma, bogoshippeo.” Bibir mungilnya bergetar ketika mengucapkan kalimat yang memilukan itu.
            “Eomma, tak rindu kah kau padaku? Tak ingin kah kau memelukku? Tak ingin kah kau membelaku ketika ayah memarahiku karena aku buta?” lalu ia terdiam sejenak dan mengusap air matanya.
            Dae Ri bangkit dan beranjak ketempat tidur. Ia duduk ditepi tempat tidur, memegang bahunya yang terasa sakit.
            “Eomma, appo. Bisakah kau mengoleskan obat pada punggungku?” Dae Ri berbicara seolah ibunya sedang berada disisinya.
            Ini semua ia lakukan untuk mengusir rasa rindu pada ibunya. Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar.
            “Nuguseyeo?” tanya Dae Ri.
            “Saya Han Soo Ri, bolehkah saya masuk nona?” tanya nona Han dari balik pintu.
            “Deureowa, unnie.”
            Kleekk.
            “Nona, bukalah baju anda. Saya akan mengoleskan obat ini pada luka anda.”
            “Unnie-a, bisakah kau bersikap santai? Ayah sedang tidak disini.” Dae Ri membuka pakaian atasnya dibantu oleh Soo Ri.
            “Kalau ayahmu tau, ia akan mendepakku dari sini.” Soo Ri duduk disebelah Dae Ri lalu mengoleskan obat kepunggung Dae Ri.
            “Aaww, unnie, appo.” Dae Ri sedikit merengek.
            “Mian, mian.”
            Sambil terus mengoleskan obat, terdengar lantunan lagu yang dimainkan dengan piano. Dae Ri sungguh kagum dengan keselarasan not yang dimainkan. Baginya itu sangat sempurna.
            “Unnie, apa murid ayah yang sedang memainkan lagu ini?” tanya Dae Ri.
            “Oh. Wae? Neo joha-e?”
             Dae Ri tersenyum sambil mengangguk.
            “Pria ini mungkin seumuranmu atau sedikit diatasmu. Dia merupakan pianis muda berbakat. Dia pernah memenangkan beberapa kejuaraan memainkan piano. Dan yang paling penting, ia merupakan pria yang tampan.” Jelas Soo Ri.
            “Jinja? Daebak! Kau tahu segalanya tentang pria itu. Apa kau seorang saeseng?” ledek Dae Ri.
            “Ch, babo-ya? Aku hanya mendengarnya dari tuan Kim. Lagi pula aku tak ada waktu untuk mencari tahu tentang kehidupan pribadi orang lain.”
            Dae Ri tertawa ringan mendengar ucapan Soo Ri. Selesai mengoleskan obat, Soo Ri membantu Dae Ri mengenakan pakaiannya.
            “Unnie?” Dae Ri mengangkat tangannya berusaha menemukan wajah Soo Ri.
            “Wae-eo?” Soo Ri menuntun tangan Dae Ri kewajahnya.
            “Apa kau cantik?” tanya Dae Ri sembari meraba wajah Dae Ri.
            “Tentu saja.”
            “Apa aku secantik kau?”
            “Hm, kau lebih cantik dari aku.” Soo Ri tersenyum.
            “Kau sedang tersenyum?”
            “Kau yang membuatku tersenyum, Dae Ri-a. Tetaplah tegar! Aku akan selalu ada untukmu.” Soo Ri menggenggam tangan Dae Ri.

~TBC~

1 komentar: