Jumat, 17 Oktober 2014

GONE

Annyeong readerdeul. Author kembali dengan chapter 3. Yang kemarin gimana? bikin penasaran atau malah bikin kalian meninggalkan Blog gajelas ini? Mian yah kalo ceritanya kering (?). Langsung aja, check this out!

GONE chapter 3
20 menit kemudian Dae Ri sudah turun dari kamarnya menuju ruang latihan. Ia tampak lesu karena takut dan kecewa. ‘Hemmmh, ternyata jika aku hari ini benar-benar sakit, ayah tetap akan memukuliku jika aku salah nada.’ Batin Dae Ri.
            “Ya, Kim Dae Ri! Palliwa!” bentak ayahnya.
            Dae Ri pun mempercepat langkah kakinya, dan tak lama ia sudah duduk dikursi piano itu.
            “Mulai lah!” perintah ayah Dae Ri.
            Jemari Dae Ri dengan lihainya memainkan tuts piano itu, dengan tatapan kosong menatap kedepan. Dan lagi, ia salah memainkan not nya. Dae Ri menggigit bibir bawahnya untuk berjaga-jaga sebelum ayahnya memukulkan rotan itu padanya dan ia menghentikan aktifitas jemarinya.
            “Ulangi!” teriak ayahnya.
            Dae Ri terkejut, bukan karena ayahnya teriak tapi karena ayahnya tak memukulnya. ‘Mungkin ini karena aku bilang aku sakit’ batinnya.
            “Kau tak mendengarkan?” tanya ayahnya.
            “Nee, abheojii.” Dae Ri kembali memainkan pianonya.
            Kesalahan demi kesalahan lain datang, tuan Dae Sung bagai kehilangan kesabaran.
            “Keumanhae!” bentaknya sambil memukul badan piano dengan rotan ditangannya.
            Sontak Dae Ri mematung. Ayahnya benar-benar marah kali ini, entah ia marah karena tidak bisa memukul Dae Ri atau apa.
            “Neo! Wae-ire?” tanya tuan Dae Sung. Dae Ri tak bisa menjawab apa-apa.
            “Apa karena kau bilang kau sakit jadi sekarang kau seenaknya?!” tuan Dae Sung kembali membentak.
            “Jhwesong-eo, abheoji.” Dae Ri mengucapkannya terbata tanpa bangkit dari duduknya.
            “Mwo? Maaf? Hanya maaf yang bisa kau ucapkan?”  tuan Dae Sung lalu diam sejenak.
            PRAKK!
            Tuan Dae Sung melempar rotannya dan membuat toples permen yang sengaja Dae Ri letakkan diatas piano jatuh dan membuat isinya berserakan, lalu ia meninggalkan Dae Ri masuk kekamarnya. Setelah tau ayahnya pergi, Dae Ri meraba-raba lantai untuk menemukan toples permennya dan merapikan isinya.
            Tanpa Dae Ri sadari ternyata Kim Min Seok memperhatikannya sedari tadi. Min Seok bingung mengapa Dae Ri meraba-raba lantai seperti itu. Kebetulan tuan Han Lee Jung, ayah dari Han Soo Ri lewat, Min Seok memutuskan untuk bertanya padanya.
            “Chogiyeo. Gadis itu, kenapa ia meraba-raba lantai seperti itu?” tanya Min Seok.     
            “Ssstt! Jika tuan Kim mendengarnya ia akan marah.” Tuan Han berbisik.
            “Oh.” Min Seok menangguk.
            “Nona Kim tidak bisa melihat.” Jawab tuan Han lalu pergi meninggalkan Min Seok.
            Min Seok membelalakan matanya, ia agak terkejut dengan perkataan tuan Han. Namun  di sisi lain ia merasa kagum dengan keteguhan hati Dae Ri atas keadaannya sekarang. Ia melangkah medekati Dae Ri tanpa bersuara. Ia membantu Dae Ri memasukkan permen-permen itu kedalam toplesnya lalu membantu Dae Ri bangkit.
            “Biar kubantu.” Ucap Min Seok sambil memegangi tangan Dae Ri lalu menuntunnya untuk duduk dikursi piano.
            “Oh, nuguseyeo?”
            “Choneun Kim Min Seok-eo, bangaweo-eo.”
            “Choneun Kim Dae Ri-eo.”
            “Emm, mau mendengarkan aku bermain piano? Ayahmu sedang tidak disini.” Tawar Kim Min Seok.
            Dae Ri menjawabnya dengan anggukan dan senyuman manisnya. Min Seok merasakan sesuatu yang aneh datang padanya saat ia melihat senyum Dae Ri. Tapi ia buru-buru menyadarkan dirinya agar tak larut dalam buaian senyum Dae Ri. Kim Min Seok mulai memainkan tuts piano itu dengan penuh penghayatan. Ia sesekali memandangi Dae Ri yang sedang mendengarkan sambil tersenyum. Tapi tiba-tiba Min Seok mendengar suara langkah kaki.
            “Dae Ri-shi, jangan kemana-mana dan jangan berkata apa-apa.” Pinta Kim Min Seok, lalu ia bersembunyi di belakang badan piano.
            Seperti yang telah ia duga, ternyata tuan Dae Sung yang menghampiri. Sepertinya ia penasaran pada orang yang memainkan piano dengan nada indah tadi. Tapi yang ia temukan adalah putrinya yang sedang duduk sendirian di kursi piano. Seketika itu pula ia meninggalkan Dae Ri tanpa berkata apa-apa.
            Setelah mengetahui kalau tuan Dae Sung sudah tak ada, ia pun keluar dari tempat persembunyiannya dan kembali duduk disebelah Dae Ri.
            “Maaf, memintamu untuk tak melakukan apa-apa tadi. Ayahmu baru saja dari sini.” Kata Min Seok.
            “Benarkah? Apa ia tahu kita baru saja bersama-sama.” Tanya Dae Ri khawatir.
            “Tenang saja, aku pandai bersembunyi.”
            Dae Ri tertawa kecil mendengar jawaban Min Seok. Bahagia pun menjalar dihati Min Seok, tapi tiba-tiba ia meringis kesakitan dan sedikit mengeluarkan suara. Ia merogoh saku jasnya dan mengambil sebuah botol kecil, ia mengeluarkan isinya lalu memakannya.
            “Em, wae geure-eo?” tanya Dae Ri ketika mendengar Min Seok merintih.
            “Ani, bukan apa-apa. Coba buka mulutmu, ini sangat enak.” Ujar Min Seok sambil memasukkan permen yang ada ditoples Dae Ri.
            Tanpa disengaja, jari Min Seok menyentuh bibir Dae Ri. Ia memandangi jemarinya sambil tersenyum. Sepertinya ia mulai menyadari perasaan apa yang kini ia rasakan terhadap Dae Ri. Bukan hanya sebuah rasa simpatik terhadap keadaan Dae Ri, tapi perasaan yang lebih dari itu. Ya, dia jatuh cinta pada Dae Ri, bukan hanya pada wajah cantiknya tapi juga pada keterbatasannya.
            Semenjak saat itu mereka sering mencuri waktu untuk tertawa bersama, berbagi cerita, saling membimbing untuk bermain piano, tanpa sepengetahuan ayah Dae Ri tentunya. Entah kapan mulainya, mereka sudah menamai hubungan mereka dengan kalimat “sepasang kekasih”. Min Seok sangat memahami keterbatasan Dae Ri meski terkadang ia lupa kalau Dae Ri tak bisa melihat. Dan Dae Ri yang sadar akan keterbatasannya pun selalu bertanya pada Min Seok berbagai pertanyaan yang mungkin akan membuat Min Seok jenuh.
            “Oppa, apa kau masih mencintaiku hari ini?” tanya Dae Ri.
            “Dae Ri-a sampai kapan kau akan bertanya seperti itu? Kau tak percaya padaku?” Min Seok sedikit kesal.
            “Ani, geunyang.”
            “Ini jawaban terakhirku, dan aku harap kau tak akan bertanya lagi tentang ini.” ucap Min Seok dengan nada serius. “Aku masih mencintaimu dan akan tetap mencintaimu, tak peduli apa yang akan memisahkan kita, percaya padaku.” Min Seok mencoba meyakinkan hati Dae Ri.
            “Boleh aku bertanya satu hal lagi?” tanya  Dae Ri lagi.
            “Wae tto?” Min Seok mengeluh.
            “Apa suatu saat nanti kau akan meninggalkanku?”
            Pertanyaan Dae Ri membuat Min Seok tertegun. Sejenak ia merasa sedih lalu merasa bersalah pada Dae Ri.
            “Oppa?” panggil Dae Ri karena tak juga mendengar jawaban Min Seok.
            “Aku tak akan meninggalkanmu, aku janji. Tapi jika suatu saat aku meninggalkanmu, itu pasti bukan kemauanku dan aku akan tetap mencintaimu. Tolong percayalah.” Jawab Min Seok sedikit lirih.

            Jawaban Min Seok membuat Dae Ri khawatir. Ia ingin sekali percaya pada Min Seok, tapi itu tak mudah baginya. Sejak saat itu Dae Ri mulai mempersiapkan mentalnya untuk menerima segala kemungkinan yang ada.

~TBC~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar